Posted by ardanti on Jun 25, '08 7:57 AM for everyone
Setiap jalan ke pasar –atau kapanpun lewat tempat itu-, hati ini rasanya berontak. Pengen marah, tapi ngga bisa ngapa-ngapain. Sebuah universitas –yang katanya tempat mendidik manusia-manusia menjadi manusia yang lebih beradab dan berakal- di bilangan Dipati Ukur, akan memperluas kampusnya di sebuah lahan. Spanduknya udah dipasang dari beberapa minggu ini. Sampai saat ini memang belum terlalu kelihatan, lahan itu mau buat apa. Tapi kemungkinan besar ada 2. Entah buat bangunan baru, atau dikerasin untuk lahan parkir. Dua-duanya tetap saja bikin gregetan. Berkurang lagi lahan-lahan resapan air.

Hohoho, semakin menggila saja pembangunan di Bandung ini. Bukan memajukan tapi malah memundurkan peradaban. Hellooooooo, sampai kapan si Bandung seperti ini? Masih saja rakyat kita ngga bisa apa-apa. Rakyatnya bungkam walaupun sudah berpuluh-puluh tahun dijajah penguasa negri, masih juga diam dan masih juga mau dijajah. Atau memang sistem membuat rakyat tidak peduli, apatis dengan keadaan sekitar? Atau kalaupun hatinya berontak hanya bisa ngedumel, karena ngga tau bisa apa (*mungkin seperti aku yang hanya bisa gregetan, dan ngomel-ngomel di blog, hahahahha*).

Hoho, untuk kasus ini aku bertanya satu hal. Kemanakah larinya Peraturan Koefisien Dasar Bangunan? Peraturan itu penyelamat tanah kita, air kita, keberlangsungan hidup kita. Ke manakah orang-orang yang selama ini katanya mengabdi pada masyarakat? Tampaknya kata-kata manis penuh pengabdian itu hanya tertulis dalam slogan-slogan kampanye pemilihan. Janji-janji tinggal janji, dan ngga pernah terdengar, yang namanya laporan pertanggungjawaban itu ditolak, atau diadili, atau apapun, karena kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan selama masa ‘pengabdian’ itu malah merusak kota dan masyarakatnya. Kata-kata indah selama kampanye hanya berubah menjadi wacana klise yang terus dipertanyakan. Dipertanyakan diri masyarakatnya, tanpa bisa melakukan aksi. Atau mereka ngga tau mau melakukan aksi apa.

Jadi kaya apa ya Bandung 10 atau 20 tahun mendatang? Ngga ada air, dan hanya ada satu peraturan. Hukum rimba. Siapa kuat siapa menang. Mungkin sudah ngga keliatan seperti kota lagi. Rumah, mal, kantor, pedagang kecil-besar, sampah, kampus, sekolah, semua jadi satu. Tumplek berantakan ngga keruan. Kaya kapal pecah, kaya kamar berantakan.

Satu omelan ini mungkin hanya sebagian keciiilll dari setumpuk masalah yang ada di Bandung.
Kapan ya, dumelan masyarakat itu bisa menjadi aksi nyata?
Kapan ya, orang-orang yang berkuasa itu bisa membangun peradaban?

salah satu PR  untuk walikota berikutnya...:)


rikariza wrote on Jun 25
wah hari ini lg banyak nulis ya, heee
kalo aku dah kasih link curhatan ke calon walikota (yang punya blog tentunya), entah dibaca ato ga, lagian blm tentu bliau jadi. Paling ngak, blognya gak menseleksi komentar, gak kaya web kota Bandung yang selektif sekali memuat komentar, hehe
rahmathya wrote on Jun 25
Biarin ajya... dosa tuh mereka!! *cuman bisa bengong menatap kekejaman yang ada*
ibutio wrote on Jun 25
neng...tulisannya kecil bangeett..susah bacanya :(
nipop wrote on Jun 25
Contoh kecil, gak ada pedestrian yang aman dari PKL untuk pejalan kaki terutama di tengah kota. Kalo kita ngomel, maka dikatai kita ini gak bisa merasakan orang susah cari uang. Padahal jelas2 PKL itu mengambil lahan untuk pejalan kaki!
Ini akibat kalo penguasanya gak patuh pada hukum, ditiru oleh bawahan. Ya gak sih???
Saya juga orang susah cari duit, tapi berusaha di jalan yang dibenarkan oleh hukum negara dan mudah2an di ridhoi Allah...amiin!
kayumanis37 wrote on Jun 25
@rika.
ngga banyak kok rik, cuma mindahin yang udah ada ke blog aja....

@mbak uci
udah tuh mbak, udah aku gedein. kemaren lupa nyetting tulisan :)

@mbak poppie
hehehe, kadang2 mangkel juga sama PKL. Tapi gimana lagi, jaman sekarang nyari kerjaan susah. Kebisaan mereka cuma itu. Mungkin harusnya difasilitasi kali ya... Pemerintah juga ngga bisa menyediakan lapangan kerja yang memadai (?!?!?!)
ibutio wrote on Jun 25
nah..begini lebih enak dibaca :))
cmils wrote on Jun 25
iya Nti...aku bisa merasakan ratapan2 spt itu...krn aku pun mengalaminya....sebenernya tugas tim penasehat kota-lah untuk membatasi hal-hal yang keluar dari pranata, meluruskan yang miring2 dan berkompromi agar bisa dapet hasil yang sesuai dengan peraturan....tapi sayang Bandung belum punya tim itu....
jadi, yang berlaku sekarang sptnya memang masih hukum rimba =_(
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help