Posted by ardanti on Jun 25, '08 5:51 AM for everyone
Berawal dari bincang-bincang santai di waktu malam bersama beberapa sahabat, akhirnya tiba di topik romantisme angkutan kota. Kali ini yang kami potret bukan kesemena-menaan angkot, tapi potret-potret kehidupan yang terekam di angkot.

Angkutan kota. Walaupun terkadang banyak kedongkolan karena supir yang tidak tau diri, tapi sampai sekarang  masih menjadi pilihan(utama)ku dalam hal mobilisasi di kota Bandung. Ngga ribet mikir parkirnya gimana, hampir semua tujuan di Bandung 'angkot'able. Yah, kalaupun harus jalan dikit, Bandung tidak sepanas Jakarta toh?!!?!

Angkutan kota. Menjadi sebuah 'sekolah' unik, tempat pembelajaran tersendiri. Di angkot kita bisa liat banyak hal, dan berimajinasi banyak hal. Atau bisa juga jadi inspirasi. Misalnya dari ngeliat orang yang duduk deket kita, otak kita bisa melayang-layang membayangkan gimana ya, kehidupan sehari-hari orang ini. Hmm…biasanya orang yang membuat aku berimajinasi seperti ini adalah orang-orang yang penampilannya tidak lazim. Hahahaha… (Sori kalo berimajinasi dari penampilan, orang ngga kenal kok, dari mana lagi kalo ngga secara visual?!?! Hehehe :p).

Pernah aku melihat seorang bapak, umurnya kira-kira pertengahan 30an. Bawa bayi yang masih keliatan baru lahir di satu tangan dan tas bayi besar di tangan yang lain. (Aku langsung berpikir ke mana ya ibunya? Karena biasanya kan yang bawa bayi umur segitu kan masih ibunya). Pas di angkot sang bayi menangis, dan dengan penuh kesabaran, si bapak langsung dengan sigap bikin susu. Masih menggendong bayi (ya iyalah, emang bayinya mau ditaro di mana?!?!), pake satu tangan, dengan hati-hati bapak itu langsung ngeluarin dot, nuangin susu formula, trus buka termos, nuangin air panas pelan-pelan, botol ditutup, dikocok, dicek panasnya, trus dikasih deh ke bayi. Repot banget kalo ngeliat bapak itu bikin susu di angkot (hmmm…kok ngga sedia susu yang udah tinggal diminum aja ya?!?!?). Ya Allah, mudahkanlah semua urusan Bapak ini ya Allah…apapun itu. Dan pikiran-pikiran terus berkembang merekah, terbang seperti layang-layang.

Dan tentunya masih banyak cerita-cerita ‘colongan’ yang terdengar, dan bisa diambil hikmahnya. Hehehe, iya lah, ‘colongan’, kan kita colong-colong denger. Atau ‘colong-colong’ liat. Alusnya mah kedengeran atau keliatan. Hmm… angkot oh angkot…


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help